7 Kekurangan Mobil Listrik di Indonesia

7 Kekurangan Mobil Listrik – Di tengah gencaranya tren mobil listrik yang semakin berkembang, kendaraan ramah lingkungan ini kerap di anggap sebagai solusi untuk pengurangan emisi karbon. Namun, kendaraan ini ternyata memiliki beberapa kelemahan yang perlu di perhatikan. Mengutip dari International Energy Agency (IEA), meski penjualan mobil listrik meningkat secara signifikan, ada tantangan besar yang di hadapi oleh konsumen. Terutama dalam pengisian daya dan biaya awal yang tinggi. Lantas apa saja sih kelemahan yang teradapat pada mobil listrik? Berikut ini diar akan bantu kamu mengetahui 7 kelemahan mobil listrik dan cara mengatasinya.
1. Biaya Awal Yang Tinggi
Mobil listrik umumnya memiliki harga yang lebih mahal di bandingkan dengan mobil konvensial. Harga tinggi ini terjadi karena biaya produksi baterai yang masih mahal. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi baterai dan ekonomi skala yang lebih besar, harga mobil listrik di perkirakan akan turun di masa depan. Beberapa produsen pun mulai menawarkan model dengan harga terjangkau.
2. Jarak Tempuh Yang Terbatas
Jarak tempuh mobil listrik masih menjadi kendala utama, terutama bagi yang sering melakukan perjalanan jauh. Berdasarkan dari data IEEE Spectrum, sebagian besar mobil listik memiliki jarak tempuh antara 200 hingga 400 KM.
3. Infrastruktur Pengisian Daya Terbatas
Meski jumlah stasiun pengisian daya semakin banyak, namun keberadaan masih sangat terbatas. Menurut European Commission, lebih dari 50% wilaya Eropa masih kekurangan stasiun pengisian daya yang mudah di akses oleh pemilik mobil listrik.
4. Waktu Pengisian Yang Lama
Pengisian daya mobil listrik memerlukan waktu yang lama di bandingkan dengan bahan bakar kendaraan konversional. Ini menjadi masalah besar bagi yang membutuhkan mobil siap di gunakan dengan cepat. Namun, fast charger yang kini mulai tersedia bisa mengisi daya hingga 80% dalam waktu sekitar 30 menit.
5. Kinerja Bakteri Menurun Seiring Waktu
Seiring waktu, kinerja bakteri mobil listrik cenderung menurun, yang dapat memengaruhi jarak tempuh dan daya baterai. Penurunan ini terjadi karena siklus pengisian yang terus menerus. Namun, beberapa produsen mulai menawarkan solusi untuk memperpanjang umur baterai, seperti teknologi manajemen bakteri yang lebih efisien.
6. Dampak Lingkungan dari Produksi Baterai
Proses pembuatan bakteri lithium-ion untuk mobil listrik menghasilkan emisi yang lebih tinggi di bandingkan produksi mobil konvesional. Maka ramah saat ini di gunakan, dampak lingkungannya tetap perlu di perhatikan. Namun, dengan dampak berkembangnya teknologi daur ulang bakterai dan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, dampak ini dapat di minimalkan.
7. Ketergantungan Pada Sumber Energi Terbarukan
Mobil listrik memang lebih ramah lingkungan, banyak pembangkit listrik yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Meski mobil listrik dapat mengurangi emisi dari kendaraan, sumber energi yang di gunakan masih beradampak pada lingkungan.
Baca Juga: Akibat Membiarkan Oli Motor Sampai Habis